Keluarga Samara. Membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah tidak
semudah mengucapkannya. Konflik di dalam kehidupan rumah tangga sangat
sering terjadi. Seiring dengan kian melejitnya peranan wanita di
sektor publik, angka perceraian justru semakin meningkat. Uniknya,
perceraian itu semakin banyak yang terjadi karena inisiatif pihak istri.
Berbagai hal bisa menjadi penyebab semrawutnya kehidupan rumah tangga.
Mulai dari masalah penghasilan suami yang dinilai kurang oleh istri,
suami yang sering pergi ke luar kota sehingga istri kesepian, istri
yang ikut bekerja di luar rumah sehingga keluarga kurang mendapatkan
perhatian, mencurigai pasangannya selingkuh, dan masih banyak lagi.
Kemandirian wanita dalam memenuhi kehidupan ekonominya menjadi salah
satu penyebab ringannya istri meminta cerai. Majalah Time pernah
mengutip pernyataan mantan putri Indonesia, Alya Rohali : “We have
proved that we can succeed financially, with or without a man” (kami
sudah membuktikan bahwa kami dapat mencapai kesuksesan finansial,
dengan atau tanpa laki-laki). Tidak mengherankan jika banyak kasus
gugatan cerai yang dilakukan Tenaga Kerja Wanita (TKW). Para wanita
itu telah bekerja keras di luar negeri, sementara para suami hidup
santai di rumah. Ironisnya, ada suami yang tega hidup berfoya-foya
dengan uang kiriman istri, bahkan berselingkuh ketika istrinya bekerja
di negeri asing. Akhirnya, wanita-wanita itu pun merasa tidak tahan
dan akhirnya meminta cerai.
Semua pasangan dengan berbagai latar belakang bisa mengalami masalah
rumah tangga yang rumit. Sayangnya, banyak figur terkenal yang masalah
rumah tangganya diekspose media. Mulai dari selebriti Ahmad Dhani dan
Maia Estianty yang “perang bintang” keduanya menjadi bahan jualan
acara infotainment selama berbulan-bulan, hingga perceraian Ustadzah
ternama Hj. Lutfiah Sungkar. Akibatnya, masyarakat menganggap bahwa
pertengkaran hingga perceraian adalah suatu hal yang wajar dan layak
terjadi.
Perceraian pun bukan solusi akhir. Masih banyak masalah lain yang
muncul pasca perceraian. Misalnya hak asuh anak yang tidak jarang
berbuntut di pengadilan, berebut harta gono-gini, hingga saling tuduh
dan menjelekkan pribadi mantan pasangannya. Drama perebutan hak asuh
anak antara artis cantik Tamara Bleszynski dengan Teuku Rafli Pasha
menjadi contoh betapa rumitnya kehidupan pasca perceraian.
Hadirnya era globalisasi seharusnya mempermudah pasangan suami istri
dalam berkomunikasi. Anehnya, keterbukaan hati dan jalinan komunikasi
yang lancar antara suami dengan istrinya tidak otomatis muncul. Tidak
jarang, teknologi informasi justru memicu kecemburuan yang
membabi-buta. Sampai-sampai ada suami yang tega menyita telepon
genggam istrinya karena khawatir istrinya selingkuh. Kemudahan
komunikasi dengan telepon genggam yang dilengkapi fasilitas layanan
short message service (sms) justru memudahkan orang yang akan
berselingkuh.
Oleh karena itu, sangat tepat DPD II HTI Kab. Bantul menyelenggarakan
Training Keluarga Sakinah II dengan tema “Menggapai Baiti Jannati di
Era Globalisasi”. Training yang sudah memasuki angkatan kedua ini akan
diselenggarakan pada hari Ahad, 17 Juni 2007 pukul 08.00 -17.00 di
Hotel Jogokaryan, Yogyakarta. Pasangan suami istri yang akan menjadi
peserta hanya perlu membeli tiket senilai Rp 50.000,00. Fasilitas yang
akan didapatkan berupa makan siang, kudapan, serta doorprize dari sponsor.
Tiket training bisa didapatkan di Sekretariat Panitia, Pepe nomor 1
Trirenggo Bantul, setiap hari Senin – Sabtu pukul 10.00 – 14.00.
Informasi lebih lengkap bisa menghubungi Hesti Rahayu (08121599809).
Bagi anda yang tidak sempat untuk datang ke sekretariat panitia,
silakan menghubungi kami untuk dibantu teknis pendaftaran.
Harapan kami, training ini bisa menjadi jawaban atas berbagai
pertanyaan terkait problem rumah tangga yang sudah menumpuk di meja
redaksi. Slogan hebat berbunyi “rumahku surgaku” semoga tidak hanya
menjadi teori. (Farid Ma’ruf; www.keluarga-samara.com)
Meretas Keluarga ? Baiti Jannati ?
12/02/2008
Oleh : Nur Aizani
“ Apabila mawaddah dan rahmah selalu dimiliki oleh suami istri, makajalan menuju rumah tangga bahagiapasti akan terwujud. Mawaddah berarti cinta, sedang rahmah berarti kasih sayang. Kalau hanya mawaddah atau cinta sajayang menjadi ikatan dalam perkawinan,maka hubungan suami istri akan segeraputus setelah keduanya memasuki masa tua dimana day a tarik cinta sudah tidak terpancar lagi darinya “ (Ahmad S/AW: Membangun Keluarga Bahagia)
Tak sedikit orang yang berlabuh dalam biduk rumah tangga mengalami problematika Tawaran mawaddatan warahmatan dalam AI-qur’an seakan tidak pernah dinikmati, hidup berkeluarga dirasakan laksana hidup dalam tempurung neraka. Pancaran kebahagian hilang, kemesraan pudar dan cinta tak kunjung datang. Tidak hanya manusia sekarang yang mengalami perpecahan semacam itu tetapi orang-orang yang dianggap mempuni bahkan sudah masuk tingkatan ma’rifatjuga mengalaminya, sebut saJa Imam Al-Ghazali dan Nabi Ibrahim.
Hidup dalam rumah tangga tidak indah seperti yang diinginkan karena Al-qur’an sendiri dalam surat Attaghaabun Jauh-jauh hari sebelum manusia lainnya (selain Nabi Muhammad) melangsungkan perkawinan telah memperingatkan: “Hai orang-orang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anahnu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka, maka Allah maha pengampun lagi maha penyayang “ (Qs : At-Taghaabun : 14).
Dalam rumah tangga hanya akan dirasakan nikmat dan bahagia ketika baru melangsungkan perkawinan selepasnya tidak, itu pun kalau tanpa paksaan sebab dalam mengarungi rumah tangga secara tidak langsung berhadapan dengan badai yang siap menghantam lebih-lebih istri yang dipersunting tidak berpengertian dan doyan materi.
Melihat dari itu, kiranya sangat perlu mulai sekarang memahami dan mengetahui tips untuk membawa keiuarga sebagaimana yang dipopulerkan oleh Alt bin Thalib dan Fatimatuzzahrah, “ Baiti Jannati “ (Rumahku adalah Syurgaku). Dalam keluarga baitijannati ini aktivitas berjalan lancar tidak mempermasalahkan badai yang selalu mengintip dari balik layar. Kemiskinan atau bentuk apapun yang menyengsarakan tidak akan mampu menenggelamkan paduan mawaddatan •warahmatan dalam keluarga baiti jannati ini, pasalnya ruh yang menghinggapi keluarga tersebut selalu mengalir damai bersa ma ridha Allah SWT. Karena itu untuk mencapai keluarga baitijannati dibutuhkan hal-hal:
1. Pandai Menyikapi Permasalahan
Kesalahan terkadang dilakukan tanpa kesengajaan sehingga menyulut perasaan salah satu anggota keluarga, dalam hal ini ketika permasalahan muncul, sangatlah tidak diperbolehkan untuk langsung menvonis si did bersalah melainkan terlebih dahulu menelitik akar permasalahannya. Apapun alasan dan sebabnya seseorang haruslah bisa mencari hikmah yang tersimpan dibalik permasalahan tersebut karena setiap musibah, masalah yang menimpa pasti terkandung hikmah. Selain itu bemiusyawarahlan untuk mendapatkan solusi terbaik sesuai dengan firman Allah “ Dan orang-orang yang menerima seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang unison mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezekiyang kami berikan kepada mereka.” (QS : Asy-Syuraa : 38)
2. Mengalah Demi Kebahagiaan
Sulit menggodok diri untuk menjadi orang yang selalu mengalah terutama dalam kebenaran karena mengalah dalam kebenaran adalah dimakruhkan , namun dalam biduk rumah tangga mengalah sangatlah di pentingkan demi tercapainya rasa kasih dan sayang antar suami istri. Untuk mengalah dibutuhkan kesadaran yang muncul dari hati nurani sehingga dapat dimungkinkan mengalah seperti itu akan selalu bersama ma’onah Allah. Sikap mengalah tidaklah dimiliki oleh semua orang karena mengalah dari sudut picik adalah gengsi. Rumah tangga yang tidak menumbuh kembangkan rasa kasih sayang akan mengubur rasa kecintaan yang pada akhirnya akan berdampak pada perpecahan.
3. Sama-Sama Memenuhi Hak Dan Kewajiban
Meminta dan memberi harus terialm pula dalam dunia keluarga. Semua hak berikut kewajibannya hams terpenuhi . Kewajiban laki-laki yang lebih mengarah kepada pencarian nafkah haruslah diimbangi dengan kesadaran sang istri. Begitujuga hak seorang istri harus selalu diperhatikan suami. Hak dan kewajiban yang teriantar akan membawa pada arah yang perpecahan, tetapi Hak dan kewajiban yang selalu berjalan seiya sekata akan mendapat kenikmatan dan keindahan luar biasa. Namun yang penting diperhatikan, jangan hanya menuntut hak sementara kewajiban ditinggalkan.
4. Mengontrol Emosi dan Pembicaraan
Ketika akal telah dikalahkan nafsu, maka saat itu emosi akan meledak. Waktu itu prilaku mulai tidak terkontrol, akibatnya ucapan-ucapan yang semestinya tidak boleh diucapkan terlontar. Begitu pula perlakuan yang seharusnya tidak boleh dilakukan, terlaksana sesuai komando emosi. Untuk itu emosi hams diredam agar penyesalan tidak dirasakan, karena secara jujur orang yang telah selesai melampiaskan emosinya, maka diwaktu sadar dia akan membaca kembali perbuatan yang dilakukan ketika emosinya meledak, pada waktu itu orang akan merasa menyesali perbuatannya Oleh karena itu Rasulullah menawarkan resep ampuh untuk tidak terjebak dalam emosi, beliau bersabda “ Marah itu datang dari syetan. Syetan itu berasal dari apt. Api hanya sapat dipadamkan dengan air, karenanya apabila kamu marah bersegeralah untuk ambil wudhu’ ! “ (HR. Abu Daud). Disamping itu para pemain emosi harus membayangkan posisi wajah seperti apa ketika marah melanda, yang jelas semuanya akan mengatakan bahwa tak satupun orang terlihat tanpan ketika marah menghiasi dirinya. Kalau demikian tak malukah melampiaskan kemarahan
5. Menghadirkan Buah Hati
Hal yang memang dinanti-natikan adalah lahirnya si buah hati. Tanpa kehadirannya suasana keluarga kurang begitu “ Jreng “. Kehadiaran buah hati akan mengubah segalanya sebab kelahirannya membara barakah dan kemanfaatan dalam keluarga. Karena itujanganlah sampai risi mengasuh momongan apalagi berdo’a malu mempunyai keturunan. Lahimya si cabang bayi sebenamya telah membahagiakan Nabi Muhammad karena disadari atau tidak dengan lahimya bayi tersebut telah memperbanyak umat Nabi Muhammad. Bayi inilah yang pada ahirnya akan meneruskan perjuangan Rasulullah untuk meninggikan kalimat Lailaha ilallah , sehingga janganlah sekali-kali meminta menunda-menunda kelahiran apalagi membatasi kelahiran. Sebab disamping memperlancar rezeki, dengan memperbanyak anak juga akan menambah kekuatan Islam untuk memasuki tantangan yang lebih dahsyat.
6. Evaluasi
Pernak pemik rumah tangga penuh dengan segudang permasalahan, bagitu pun kebahagiaan ikut juga meramaikan pernak-pernik dalam rumah tangga. Demi mengubah permasalahan menjadi kebahagiaan, maka dari pasangan suami istri harus berani mengevaluasi kekurangan yang nampak ataupun tersembunyi. Kekurangan yang telah diketahui satu sama lainnya haruslah dirubah demi terciptanya suasana harmonis yang selalau dipayungi kalimat Mawaddatan Warahmatan. Haruslah merasa dan mengerti bahwa antara suami istri laksana baju yang saling menutupi. Pasangan suami istri harus pandai menutupi kekeurangan masing-masing saling mengevaluasi maka dengan sendirinya akan menemukan wama baru yang lebih mapan dengan catatan kekurangan yang dimiliki tidak terulangi lagi.
Oleh karena itu, sangatlah perlu bagi kita untuk mendambakan keluarga yang selalu terpancarkan keindahan syurga yang pada akhimya akan membuka jalan pada pintu syurga. Keluarga baiti jannati sangat terbuka untuk dimiliki siapapun, tergantung sejauh mana pemimpin keluarga mengacahkan anggota keluargaaya. Baffa’ jannati bukan haaya jargon – tetapi realita sebagaimana yang dialami Fatimatuzzahra dan Ali bin Abi Thalib. Akankah kita mampu untuk mewujudkan keluarga baiti jannati’? ataukah jangan-jangan kita hanya pernah mendengar tanpa mampu meraihnya ?